Selamat Datang - Wel Come

Selamat anda mengunjungi Situs dan menyimak artikel perunggasan dari sumber yang mumpuni.

Jumat, 05 Februari 2010

Khabar Aktual Dua Mingguan 2

ayam09-ayam2009.blogspot. Khabar Aktual Dua Mingguan kawasan Jabodetabek.
Periode: 17 Januari  s/d 30 Januari 2010.
Komodity ayam Broiler:
1. Harga ayam hidup ditingkat peternak, masih dibawah Rp. 10.000/kg bahkan sempat pada kisaran
    Rp.8,500,-/kg. Itupun masim dalam kondisi susah jual.
2. Keadaan nomer 2, mengakibatkan ayam yang berukuran berat di atas 2 kg, semakin banyak saja.
3. Sistemik dari nomer 3, peternak ayam broiler semakin kualahan dalam biaya dan anggaran untuk pakan.
4. Pedagang/tengkulak ayam hidup, serba salah. dalam penjadualan penangkapan ayam di kandang.
    Dikarenakan selain harga di pasar tradisional lesu juga membanjirnya suplay ayam broiler hidup di kandang.  Termasuk permodalan yang semakin menipis akibat situasi dua minggu pertama yakni bantak ayam sakit dan kematian ayam di kandang karantina (sebelum ayam dipotong).

Komodity DOC Broiler Komersiil.
1. Harga DOC broiler "Super", per Senin 18 Januari 10 naik ke angka Rp. 3.000,-/ekor  kondisi ini hingga    akhir bulan Januari 2010.
2. Permintaan Peternak terhadap DOC Broiler Kualitas "Super", BM maupun Polos. Meningkat tapi barang   tidak mencukupi di pasaran. Jadi Harga DOC tersebut di atas terkadang di beli oleh peternak "kecil" seharga Rp. 4.000,-/ekor kualitas "Super".

Komodity Telor Coklat.
1. Harga telor coklat di tingkat Peternak, masih dalam kondisi gonjang-ganjing per kilo gram dihargai sekitar   Rp. 9.500,- hingga Rp. 10.200,-
2. Pasokkan telor dari peternak petelor coklat, sebenarnya normal saja. Namun disinyalir ada permainan    penggelontoran telor HE, yang frekuensinya sesekali tapi cukup mengganggu harga di pasar tradisonal.

Komodity DOC Final Stock Petelor.
1. Harga DOC FS Petelor, hingga akhir Januari 2010 hanya dihargai Rp. 1.000,-/ekor bahkan ada yang    menjual dibawah harga tersebut di atas.
2. Suplay DOC FS Petelor, terlihat melebihi pangsa pasar alias "banjir" dan susah menjualnya.
3. Sistemik dari nomer 2, terlihat komodity tersebut di pasar Jatinegara, dijual sebagai mainan peliharaan    anak-anak.

Komodity ayam Pejantan.
1. Harga ayam hidup Pejantan, di ditingkat peternak juga mengalami penurunan harga.
2. Hal ini tidak terlepas dari imbas ayam hidup Broiler.
3. Kondisi berat badan ayam Pejantan, di kandang juga anomali dalam arti banyak yang diatas satu kilo gram.  Pada umumnya peternak ayam Pejantan akan memanen ayamnya dengan berat badan 6 - 8 ons.

4. Sistemik dari nomer 3, jelas peternak tujuh keliling memikirkan biaya pakan.

Komodity ayam afkir dari Parent Stock Broiler maupun Layer.
1. Sami mawon, dalam arti kata harganya merosot bahkan dibawah harga Broiler.

Analisa aktual dari lapangan:
1. Pada artikel perkiraan perunggasan di tahun 2010, penulis memperkirakan bahwa asosiasi Breeding akan    melakukan "tradisi" yakni Pemusnahan calon anak ayam. Ternyata belum ada tanda-tanda di lakukan.

2. Kemungkinan yang mereka lakukan, adalah bersama in grupnya melakukan pengisian ayam di kandang-    kandangnya yang sudah di intensifikasi.

3. Karena yang melakukan aktifitas tersebut diatas tidak hanya satu atau dua. maka yang terjadi adalah    kondisi pada saat ini. Baik harga Daging ayam Broiler maupun Pejantan jeblok. Demikian pula harga telor.

4. Jika pebisnis melakukan penyimpanan daging ayamnya di cool storage, maka dipastikan dua - tiga bulan    kedepan daging tersebut akan dijual "di pasar". Jadi apa hendak di kata harga komodity daging ayam akan    tidak menentu pula alias gonjang-ganjing karena terjadi over suplay lagi.

5. Jadi siapa ya... yang untung? dan siapa yang bakal buntung?

6. Harga DOC FS Petelor-pun, di dua minggu kedepan masih runyam dan berimbas pada komodity yang bersangkutan. Sesuai hukum alam yang kuat "hebat" yang kalah gigit jari.

Senin, 25 Januari 2010

Khabar Aktual Dua Mingguan 1

ayam09-ayam2009.blogspot.com. Khabar aktual dua mingguan.
Artikel berikut berisikan tentang kondisi komoditi ayam broiler secara umum di wilayah Jabodetabek di tahun 2010.
Dimulai periode 1 Januari hingga 16 Januari 2010.
Mari kita cermati komoditi tersebut:
I. Harga DOC broiler kualitas "super", cenderung di bawah harga Rp. 3000,-/ekor. Apa lagi pada periode       10 Januari hingga 16 Januari 2010. Kondisi harga tembak-tembakkan di bawah Rp. 2.500,-/ekor. Dengan kondisi breeder susah menjual DOC Broiler.

II. Harga daging ayam Broiler Hidup di kandang juga mengalami penurunan harga, jauh di bawah BEP yakni hanya di hargai Rp. 8.500,- s/d Rp. 10.000,-/Kg berat hidup.

III. Harga pakan untuk ayam broiler, rata-rata naik Rp. 5.000,-/karung. Jadi per Kg pakan senilai Rp. 4.580,-/kg itupun jenis kwalitas dua.

IV. Kondisi kesehatan ayam broiler di kandang, banyak yang mengalami penurunan daya tahan tubuhnya, alias banyak yang sakit. (Salah satu sebab dikarenakan cuaca yang ekstrim, hujan terus menerus selama dua hari, disertai angin yang cukup dingin, selang beberapa hari kemudian tanpa hujan dan suhu cukup terik atau siang terik sore/malam - hujan).

Prediksi dan analisa:
1. Jelas banyak peternak ayam Broiler kelas Gurem, mengalami kerugian. Kesehatan ayam di kandang turun diikuti kematian yang tinggi.
2. Pedagang/tengkulak ayam broilerpun juga banyak yang mengalami kerugian, karena sebelum ayam dipotong, sudah ada yang mati duluan di kandang karantina.
3. Efek domino dari poin 2 atau istilah ngetrennya Peternak ayam Broiler kelas menegah hingga besar terkena dampak Sistemik dari tengkulak di kandangnya sangat seret dipanen,  berat hidup ayam di kandang mencapai ukuran  2 kg/ekor malah ada yang 3 kg/ekor. So pasti peternak tersebut galau mengenai pakan bagi ayamnya yang semakin membesar demikian pula biaya nya dan program untuk chick in pun akan terganggu.
3. Soal harga pakan Broiler, mungkin sudah wajar naik dengan alasan dimana-mana kesulitan jagung atau petani baru tanam jagung atau petani belum panen jagung. (alasan klasik).
4. Kalau sudah demikian keadaannya, peternak ayam Broiler kelas Gurem semakin runnyamlah keadaanya demikian pula peternak ayam Broiler kelas menengah ke atas terkena getahnya.
5. Apakah kondisi ini berlanjut atau sesaat?

Kita lihat kedepan,
- Yang jelas Harga DOC broiler kualitas super di hari Senin 18 Januari 2010, merangkak naik di atas              Rp. 3.000,-/ekor dimana Breeder kewalahan memenuhi permintaan peternak.
- Perkiraan penulis pada Medio Februari 2010, harga  ayam broiler hidup di kandang lebih parah lagi,

Masalah Komoditi Telor coklat:
- Harga telor coklat per kilogramnya merosot, berkisar di angka Rp. 10.000,- (harga di kandang).
- Harga DOC final stock Petelor coklat, di pihak pembibit/breeder, stabil diangka Rp. 2.500/ekor.
   Padahal bulan Januari hingga Februari 2010 ini, kesempatan para peternak Petelor coklat melakukan
   program chick in, yang berimbas pada permintaan DOC petelor coklat meningkat sehingga harganyapun 
   akan naik.

Kesemua komoditi di atas terasa serba ada keterbalikkan dari biasanya atau terjadi Anomali-anomali, kita bisa sedikit mendapat jawaban dalam kurun waktu satu bulan kedepan.

Selasa, 22 Desember 2009

KONDISI PETERNAKAN AYAM BROILER JABODETABEK DI AKHIR TAHUN 2009

Kondisi Peternakan Ayam Broiler "Jabodetabek" di akhir Tahun 2009.
ayam09-ayam2009.blogspot.com. Kondisi Peternakan Ayam Broiler "Jabodetabek" di akhir tahun ini bisa dibilang mengkhawatirkan?
Mengapa demikian, coba tengok kondisi dilapangan saat ini harga DOC Broiler final stock "super" terpuruk di angka Rp.2.000,- - Rp. 2.200,- per ekor. Hal ini menunjukkan bahwa suplay DOC tersebut di atas sudah melebihi kebutuhan peternak, disertai beberapa faktor lain.

Indikasi awal bakal terjadi situasi ini, sudah terlihat satu hingga  tiga minggu setelah Lebaran tahun ini. Ditandai dengan harga DOC Broiler FS hanya Rp. 3.000,-/ekor bahkan beberapa breeder  melakukan sedikit banting harga istilah populer di kalangan breder sudah main "tembak-tembakan harga".

Normal pada periode tiga minggu tersebut di atas, kondisi suplay DOC Broiler FS akan terjadi kenaikkan, ini dikarenakan bahwa satu minggu jatuh tempo Lebaran, breeder tidak melakukan Setting Telor Tetas.
Dengan kata lain beberapa Breeder melakukan penyimpanan Hatching Egg/telor tetas di Cool room, selama satu minggu penuh dan akan habis dilakukan Setting hingga minggu ke tiga berikutnya.

Pada minggu ke empat hingga seterusnya, suplay DOC Broiler FS seharusnya kembali pada kondisi sebelum periode Lebaran. Tetapi  kenyataan dilapangan terjadi over suplay, dengan ditandai:
1. Harga jual DOC Broiler FS "super" jatuh pada kisaran Rp. 2.200,- per ekor, disertai harga "tembakkan".
2. Banyak anak ayam umur dua-tiga hari (dengan ciri; bulu sayap sudah tumbuh 0.5 - 1.0 cm, kaki kering)
    beredar di Gunung sindur, Parung, Prumpung untuk empan Ikan darat.
3. Banyak bermunculan pedagang Anak ayam warna-warni, di sekitar pasar atau sekolah.

Faktor lain yang mempengaruhi jatuhnya harga DOC Broiler FS antara lain:
1. Mewabahnya penyakit yang disebabkan kuman E. coli terhadap ternak ayam Broiler di kandang.
(Salah satu sebab akibat perobahan iklim dari kemarau ke penghujan).
2.  Pemikiran praktis dari beberapa peternak, dari pada pelihara ayam Broiler FS meski harga DOC murah tapi beresiko, lebih baik alih profesi "sementara".
3. Tidak kalah penting adalah harga jual ayam hidup di tingkat peternak turun, khusus yang berbobot dibawah satu kilo gram. Sedangkan yang berbobot hidup 1.2 Kg ke atas berfariasi di Rp. 13.000,- Alias banyak peternak pada saat ini impas atau balik modal saja atau terjadi sedikit merugi.

Mengapa terulang lagi over suplay DOC Broiler FS?
Seperti halnya pada pebisnis Layer, demikian pula terjadi pada pebisnis Broiler baik dari tingkat breeder maupun peternak komersiil Broiler (Sistem kemitraan atau gurem), menambah populasi dengan harapan harga jual DOC dan ayam hidupnya tetap tinggi, dus dalam angan bakal untung berlipat.

Intinya bahwa karena kondisi di lapangan Tahun 2009 minus bulan November dan Desember, harga DOC Broiler FS bagus berkisar Rp. 3.300,- hingga Rp. 4.300,- per ekor. Dan pada periode tersebut tidak terdengar kegiatan pemusnahan calon anak ayam.
Maka berlomba-lombalah para pebisnis, baik itu modal sendiri maupun dari kucuran Bank (diantaranya Bank plat merah pula)
a. Melakukan infestasi, membuat kandang-kandang baru baik untuk Ayam Parent Stock maupun Final stock.
b. Melakukan intensifikasi kandang, dari sistem open house menjadi Close house,

Sudah tidak menjadi rahasia, yang melakukan kiat tersebut bukan hanya satu dua pebisnis tapi bisa mencapai sepuluh pebisnis, artinya sudah pasti akan terjadi kenaikkan populasi baik Parent stock maupun Final stock dikemudian hari.

Perkiraan Peternakan Broiler Tahun depan ( Th. 2010 )
Bagi pengusaha Breeder, sepulang dari liburan akhir tahun pasti bersiap-siap kumpul, membahas pengendalian suplay DOC Broiler yang beredar, dengan cara yang sudah lazim dilakukan "aborsi" istilah keren mereka .Agar harganya tidak semakin jatuh.
Sayangnya perlakukan tersebut sedikit banyak tidak akan dilakukan oleh beberapa Breeder "diluar yang sudah tercatat ".
Jadi ada kemungkinan harga DOC Broiler FS hanya berkisar Rp. 2.750,- - Rp. 3.000,- per ekor.

Meskipun harga DOC Broiler FS, sedikit terjangkau oleh peternak gurem, sisi lain yang menhadang adalah kemungkinan harga pakan ayam broiler akan naik hingga Rp. 4.750,-/Kg. Hal ini disebabkan  antara lain;

1. Pasokan bahan baku pakan terutama Jagung seluruh Dunia Turun (beberapa Negara penanam Jagung mengalami gagal panen).
Manfaat Jagung tidak lagi dipergunakan sebagai bahan baku pakan ternak melainkan ditingkatkan statusnya menjadi bahan baku BIOETHANOL.
2. Demikian pula bahan baku pakan dari Kedelai Utuh, mengalami penurunan pasokan akibat gagal panen (salah satunya masalah perobahan cuaca/iklim).
3. Perlu di ingat bahwa ekspansi atau intensifikasi perunggasan, tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan terjadi pula di negara-negara Asean dan di beberapa negara Timur Tengah.
Jadi secara otomatis kebutuhan bahan baku pakan tersebut di atas akan meningkat volumenya (demand naik tapi supplay menurun, harga-harga komoditi di atas akan melambung). 
4. Yang tak kalah penting harga BBM ditingkat dunia sudah merangkak naik menuju angka $ 100 US/barrel, dus dipastikan ongkos transportasi disemua lini pasti akan naik.

Ketok Pintu Hati:
Wahay....Breeder dan peternak komersiil besar
Jika terjadi begini terus, bisa dikatakan yang punya modal besar "berjaya", yang bermodal kecil bakal "lewat", peternak gurem "tinggal nama", ...lewat segalanya....

Sebaiknya berkumpul, tidak hanya "sekedar" tapi perlu rekonsiliasi, serta memikirkan Blue Print secara nasional untuk kemudian hari.

Sekali lagi Soal ketahanan bahan baku pakan ternak Ayam, Big Question Mark.
Padahal ada peluang bisnis....dan sangat-sangat memungkinkan dilakukan serta dikerjakan sekarang juga dinegeri kita sendiri, bukan di negeri orang lain toh...

Rabu, 02 Desember 2009

Membaca dari situasi peternakan petelor coklat di penghujung tahun 2009

Membaca situasi Peternakan Petelor Coklat di penghujung tahun 2009.
ayam09-ayam2009.blogspot.com. Membaca situasi perunggasan di akhir tahun, khususnya di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi akan lebih klop bila di kaitkan dengan situasi dan kondisi di lapangan.

Situasi pada bidang usaha ayam petelor;
Kenyataan di lapangan bahwa setelah masa peringatan Hari besar Lebaran tahun ini, harga komoditi telor coklat di tingkat peternak komersil sangat fluktuatif harganya antara Rp.12.000 - Rp.13.500/kg bahkan pernah dibawah harga Rp. 10.000,-/kg.
Barulah diawal Desember tahun ini harga sedikit naik.

Hal ini berbeda dengan situasi di akhir tahun 2008, dimana harga komoditi telor coklat stabil di atas  Rp. 14.000/kg.

Adapun dampak dari situasi tersebut sangat dirasakan oleh peternak komersiil Petelor sebagai produsen karena untungnya tipis sekali. Sedangkan dampak lainnya menerpa pengusaha telor candling baik jenis putih maupun coklat, merugi cukup besar karena hanya sedikit yang diserap oleh pengusaha pabrik roti kelas menengah ke bawah. Dalam arti kata mereka pengusaha pabrik roti sekarang ini lebih suka mempergunakan telor coklat fresh karena harganya terjangkau.

Pandangan kita, tertuju pada beberapa tabiat tertentu dari pengusaha kita, umumnya ialah bila mana harga telor coklat stabil atau lebih dari angka Rp. 14.000,- per kilo gram, maka berbondong-bondong yang ikut-ikutan berusaha di bidang peternakan ayam petelor atau bahkan peternakkan petelor yang dulunya "tiarap" pada bulan Mei-Juni 2009 bangkit kembali. Berharap harga telor coklat seperti di tahun 2008.
Jadi tidak mengherankan bilamana pada saat tertentu seperti di akhir bulan November ini, terjadi kelebihan suplay sedang daya serapnya tetap.

Situasi bidang usaha beeding Farm Layer:
Tabiat seperti di atas, ternyata dilakukan pula oleh beberapa Breeding Farm Layer, alasannya mirip sama dan mereka berkaca pada situasi pertengahan-hingga akhir tahun 2008, dimana  harga DOC Layer saat itu        Rp 6000,- - Rp. 6500,-/ekor.
Jadilah populasi Parent Stock Layer dari awal hingga pertengahan Tahun 2009, bertambah besar jumlahnya, yang berakibat suplay DOC Layer komersiil banyak sekali, harganya mulai jatuh di bulan September hingga bulan ini. Hal ini  terbukti dilapangan yaitu membanjirnya DOC tersebut di lapak Prumpung-Jakarta Timur.
Meskipun harganya hanya Rp. 2000,--Rp. 2.500,-/ekor. peternak petelor komersiil coklat "sungguhan", hanya sedikit yang Chick In (sebagai replacement indukan yang berumur tua/siap afkir).

Alasan mereka cukup realistis; antara lain harga ayam afkir indukkannya rendah kalah bersaing dengan daging ayam Broiler yang perkilonya diharga Rp. 13.500,-Rp. 14.000,-/kg hidup.
Ini terbukti pada hari besar Idul adha, tempo hari, dipasar tradisional banyak dijual indukkan afkir petelor tapi banyak pula yang kembali kekandang semula alias kurang laku.
Pada hal dari hasil penjualan indukkan afkir tersebut, akan diplotkan untuk membeli DOC komersiil Layer.

Jadi situasi pada bulan Desember ini kondisi peternak komersiil Layer cukup riskan dan serba salah, serta berharap cemas akan kelangsungan usahanya. Terutama sekali berharap agar harga pakan tidak naik dan pengusaha Breeding Layer tidak berulah.

Perkiraan peternakan petelor coklat di tahun 2010
Mencermati kondisi tersebut di atas, kita bisa sedikit memperkirakan kondisi peternakan petelor coklat di tahun 2010, harga telor coklat akan berkisar Rp 13.500,-/kg. Tapi DOC layer komersiil harganya akan naik lagi seperti di tahun 2008, karena Breeding Farm Layer sudah barang tentu mengurangi populasi Parent Stocknya atau bahkan beralih ke Parent Stock Broiler.

Lalu bagaimana tentang kondisi peternakan Broiler di tahun 2010, kita ikuti artikel berikutnya.

Senin, 30 November 2009

Suplemen II (atas Resume dari artikel Berhitung cepat 1 dan 2)

ayam09-ayam2009.blogspot.com, Suplemen II (atas resume Berhitung cepat 1 dan 2).
Pada artikel Suplemen I, sudah dijelaskan mengenai seluk beluk Hatchery Parent Stock untuk Broiler.
Untuk artikel Suplemen II berikut ini akan diulas, Hatchery Parent stock Layer dan Hatchery Grand Parent stock baik broiler maupun layer.

Berikut ulasan tentang Hatchery Parent Stock Layer:

Seperti halnya pada Parent stock Broiler, Hatchery Parent stock layer umumnya menggunakan setter/incubator ber type "Multi Stage" dengan jumlah egg set 12.960 butir/setting.
Jadi kita bisa menghitung jumlah kapasitas setter terpasang di tahun 2008, sebanyak 89 biji. (119.693.550 dibagi dari hasil perkalian 52 x 2 x 12.960), standar Harrison, Pearl atau Jamesway. Dan kita kerucutkan menjadi 75 biji, dengan alasan tidak semua Breeding Farm di Indonesia memakai ketiga jenis setter di atas.

Adapun rasio jumlah karyawan terhadap mesin yang dikelola, adalah 3.2. Karena kita tahu bahwa DOC Final stock yang dihasilkan jenis: Pejantan dan Layer dimana DOC Layer tersebut perlu perlakuan Vaccinasi Marek"s dan Potong paruh. Jadi karyawan yang bekerja di Hatchery Parent stock layer sekitar 240 orang.

Kebutuhan tenaga listrik untuk  setter dan hatcher beroperasional semua 406.875 watt, ditambah 15%nya yaitu lebih kurang 468.000 watt.

Sedangkan konsumsi air yang dibutuhkan selama setahun, sebanyak 10.920 meter kubik.( 75 x 2 x 52 x 1.4).

Berikut Ulasan tentang Hatchery Grand Parent Stock:
Managemen Hatchery Grand Parent Stock sangatlah berbeda dengan Hatchery Parent Stock, terutama sekali pada perlakuan dan pengelolaan DOC nya. Yang jelas pada Hatchery Grand Parent stock kesemua DOC yang dihasilkan haruslah dipilah jantan maupun betina melalui Vent Sexing.

DOC Pejantan Parent Stock (Pejantan dari strain A/strain 4), selain mengalami perlakuan vent sexing juga mengalami: vaccinasi Marek's,  De toeing/potong ibu jari serta De combbing/potong jengger.
Sedang DOC Betina Parent Stock (Betina dari strain B/strain 8),hanya mengalami perlakuan vent sexing dan vaccinasi Marek's.
Perlakuan De beaking/potong paruh tidak diperlakukan, karena tingkat stress DOC sudah cukup berat. De beaking/potong paruh dilakukan di Farm Parent stock pada minggu ke dua yang disesuaikan jadual vaccinasi.

Adapun setter yang  dipergunakan umumnya bertipe "Single stage", baik untuk hatchery GPS Broiler maupun Layer.

GPS Broiler:
Mengingat Setter yang dipergunakan bertipe single stage, maka untuk menghitung kapasitas setter terpasang di tahun 2008, adalah berbeda dengan Hatchery Parent stock. Perhitungannya 20.063.797 butir dibagi hasil dari perkalian 12.960 x 1 x 18, yaitu sebanyak 86 biji. Dikerucutkan hanya menjadi 80 biji.
Kebutuhan tenaga kerja, ber rasio 4.5 orang per mesin, jadi Pada Hatchery Grand Parent Stock Broiler di tahun 2008 membutuhkan karyawan 360 orang.
Kebutuhan tenaga listrik, saat kesemua setter dan hatcher operasional 520.000watt.
Sedang kebutuhan airnya sekitar 1.440 meter kubik.

GPS Layer:
Kebutuhan Setter dan Hatcher untuk GPS layer, adalah 16 biji (hasil dari 3.707.656 dibagi dengan hasil perkalian 12.960 x 1 x 18). dan dikerucutkan hanya sekitar 14 biji.
Kebutuhan tenaga kerja, berasio 4.5 orang per mesin, hanya dibutuhkan 72 orang.
Kebutuhan tenaga listrik, saat kesemua setter dan hatcher operasional 90.400 watt.
Sedangkan kebutuhan airnya, hanya 26 meter kubik.


Dari hilir ke hulu, di tahun 2008 bahwa Hatchery secara keseluruhan menyerap tenaga kerja 3.272 orang, Dalam operasional mesin setter dan hatcher berikut sarana penunjangnya memerlukan tenaga listrik sebesar 7.078.400 watt (disaat semua mesin operasional).
Sedangkan air untuk keperluan cuci (cuci mesin setter/hatcher, rak-rak, egg tray) maupun sarana untuk kelembaban sekitar 157.986 meter kubik (setara 19.748 truk tanki air dari pegunungan).

Dari masalah air tersebut di atas, anda bisa menghitung nilai rupiah yang dibutuhkan, yaitu dengan cara mengalikan harga air pegunungan per tanki @ 125.000 rupiah (isi 8000 meter kubik). Tentu akan wou...
Jadi layak dan bijak bila Usaha Hatchery baik pada Parent stock maupun Grand Parent stock berhemat air dan melestarikan lingkungan sekitar dengan mengadakan penghijauan tanaman keras guna ketersediaan air tanah sekitar.
Demikian pula masalah tenaga listrik.
Apa lagi persoalan kesejahteraan karyawannya.
Walau alam....semoga ada pencerahan di kemudian hari.



Kamis, 26 November 2009

Suplemen I (atas Resume dari artikel Berhitung Cepat 1 dan 2)

ayam09-ayam2009.blogspot.com. Suplemen I - Resume dari artikel 1 dan 2.
Dari dua artikel sebelumnya kita  mendapatkan data telor-telor tetas yang akan ditetaskan kedalam mesin.  Contohnya:
1. Telor tetas untuk Parent Stock Broiler, sebanyak 1.570.361.500 butir/tahun.
2. Telor tetas untuk Parent Stock Layer, sebanyak      119.693.550 butir/tahun.
3. Telor tetas untuk Grand Parent Stock Broiler, sebanyak 20.063.797 butir/tahun.
4. Telor tetas untuk Grand Parent Stock Layer, sebanyak 3.707.656 butir/tahun.

Dan dari data tersebut di atas kita dapat mengulas lebih dalam mengenai seluk beluk Hatchery Parent Stock maupun Hatchery Grand Parent Stock, baik mengenai kapasitas mesin setter/hatcher "terpasang", tenaga kerja, kebutuhan air serta listrik.

Berikut ulasan tentang Hatchery Parent Stock:
Parent stock Broiler:
Sudah lazim pada management Hatchery PS, bahwa satu unit mesin Setter/incubator akan setting sebanyak dua kali dalam satu minggu, umumnya Senin dan kamis atau Selasa dan Jumat.
Jadi kita bisa memperkirakan bahwa setter/hatcher ditahun 2008, terpasang sebanyak 1.165 unit yaitu perhitungan dari 1.570.361.500 butir dibagi dari hasil perkalian 52 x 2 x 12.960.
Dimana angka 12.960 butir adalah jumlah ideal Egg set bagi mesin setter sejenis Harrison, Pearl atau Jamesway yang mana pengalaman ini didasarkan pada hasil dilapangan serta menkondisikan terhadap iklim tropis. Sedangkan bila Hatchery PS menggunakan sejenis mesin Petersime maupun Pas Reform atau Chick Master tentu Egg setnya lebih besar dari 12.960, antara 18.600-19.200 butir.
Oleh karena pemakai mesin setter di Indonesia tidak hanya satu jenis maka kita bisa lebih mengerucutkan mengenai jumlah mesin setter terpasang di Indonesia di tahun 2008 sebanyak 1.000 unit saja. Dan pada umumnya "multi stage type".

Ulasan mengenai penyerapan tenaga kerja:
Penyerapan tenaga kerja yang dimaksud dapatlah diklasifikasikan:
-  bagian cuci baik itu cuci kereta setter/hatcher, egg tray dan mesin-mesinnya.
-  bagian seleksi dan hitung DOC serta stapler box DOC.
-  bagian operator mesin/teknik umum termasuk penaganan Gen Set.
-  bagian kebersihan lingkungan.
-  bagian keamanan lingkungan.
-  bagian kantin
-  bagian Cool room/kamar pendingin
-  bagian administrasi serta wakil dan Manager Hatchery.

Pada umumnya efisiensi tenaga kerja di Hatchery PS, dikaitkan dengan jumlah mesin terpasang yang dimiliki masing-masing Breeding Farm. Angka efisiensi tersebut sekitar 2.6 per mesin. Jadi dapat diperkirakan kebutuhan tenaga kerja di Hatchery PS Broiler pada tahun 2008 sebanyak 2.600 orang.

Ulasan mengenai Pemakaian tenaga listrik:
Sudah dijelaskan diatas, bahwa pada Hatchery PS Broiler terdapat mesin Setter/incubator dan Hatcher. Dimana masing- masing jenis mesin sangatlah berbeda terhadap konsumsi tenaga listrik yang diserapnya. Pengalaman penulis di lapangan, dengan menggunakan alat ukur Tang meter, satu unit mesin setter dan hatcher Jenis Harrison/Jamesway berikut pemakaian listrik untuk peralatan  lainnya, mengkonsumsi tenaga listrik sekitar 5.425 watt.
Jadi kebutuhan tenaga listrik untuk Hatchery PS Broiler di tahun 2008, perusahaan listrik negara harus menyediakan  sekitar 6.000.000 watt disaat ke 1000 mesin setter dan 1000 mesin hatcher operasional semua. Cukup besar.. Apa lagi di saat sekarang ini PLN sedang dilanda kekurangan pasokan tenaga listrik. Saran, seharusnya ada yang memikirkan mengenai suplai tenaga listrik alternatif, tentu selain dari Gen Set.

Ulasan mengenai konsumsi air:
 Air, bagi Hatchery PS  adalah sangat vital dan diperlukan sekali. Oleh karena itu sumber air haruslah dicari dan diupayakan. Baik itu mengambil air dari dalam tanah dengan kedalaman 20 - 40 meter (air permukaan) atau menyedot air dari kedalaman 100 meter lebih (sumur artetis). Dan hanya beberapa Hatchery PS yang mengupayakan air rawa atau sungai untuk dijernihkan untuk memenuhi kebutuhannya.
Pengalaman penulis dilapangan, kebutuhan air untuk mencuci rak Setter, rak Hatcher, egg tray, lantai dan cuci mesin Hatcher serta kebutuhan "water spray"sekitar 1.4 meter kubik.
Jadi bisa dibayangkan di Tahun 2008, Hatchery PS membutuhkan air sekitar 145.600 meter kubik.

Sentil kiri dan kanan:
Apa hendak di kata?, Hatchery PS Broiler dibilang serba boros baik mengenai pemanfaatan tenaga listrik maupun pemanfaatan air, memang iya.
Terutama masalah air, umumnya air limbah dari Hatchery terbuang begitu saja; tertampung pada kolam atau bahkan mengalir kemana dia mau dan bahkan boleh dibilang semaunya saja dia untuk mencemari lingkungan sekitar. Tentunya kasus semacam ini ada yang memikirkan, jalan keluar yang bijak bermanfaat bagi semua pihak. Contohnya: Pihak Hatchery PS;
- haruslah berkewajiban mengolah kembali air limbahnya untuk bisa dan layak dipergunakan lagi,
- mengadakan penghijauan tanaman keras di radius "tertentu "dekat lingkugan luar Hatchery agar kelestarian dan ketersediaan airnya tetap terjaga, jangan hanya menyedot air saja.
- haruslah ada niat untuk menampung air hujan, guna substitusi kebutuhannya.

Managemen Hatchery PS Broiler, umumnya sangat efisien terhadap karyawan. Selayaknya Karyawan harus diperhatikan baik masalah kesehatan, kelayakkan finansial. Mengingat apa yang dihadapi setiap harinya sangatlah riskan akan "bahaya" seperti pengaruh disinfektan yang bersifat kimiawi, debu bulu DOC, limbah padat dari telor atau lainnya serta pengaruh kuman yang berada di dalam mesin setter/hatcher. Dan tak kalah penting adalah kenyamanan atau suasana kerja serta kesinambungan waktu kerja dikemudian hari.

Senin, 26 Oktober 2009

Resume dua artikel Berhitung Cepat 1 dan 2

RESUME DUA ARTIKEL SEBELUMNYA

ayam09-ayam2009. blogspot.com, menarik sekali bahwa dari satu alinea "Berdasarkan data dari Pusat Informasi Pasar (Pinsar) Unggas Nasional pada tahun 2008 total permintaan daging ayam di dalam negeri mencapai 980 ribu ton dan permintaan telor mencapai 920 ribu ton" yang dikutip dari Makalah Impor Unggas ancam Peternak  Kecil (Antaranews.com-10 Juni 2009). Tiga artikel tersaji berseri dan kesemuanya adalah murni dari pemikiran penulis berdasarkan data dan pengalaman yang dimilikinya.

Artikel ke tiga di bawah ini adalah mengenai resume dari dua artikel sebelumnya khusus pada hubungan populasi berbagai jenis ayam terhadap total konsumsi pakan serta ketersediaan bahan baku pakan. (secara Nasional).

Populasi masing-masing Jenis ayam:
Dari ulasan sebelumnya kita mendapatkan data perkirakan akan populasi dari berbagai jenis ayam di tahun 2008 yakni:
- Ayam Broiler Final Stock                       = 13.034.000.000 ekor
- Ayam Broiler Parent Stock                     =        14.469.087 ekor (meliputi betina dan pejantan)
- Ayam Broiler Grand Parent Stock           =             544.584 ekor (meliputi Strain B dan strain A)

- Ayam Layer/petelor Final Stock              =        47.995.929 ekor
- Ayam Layer Parent Stock                       =             989.276 ekor (meliputi betina dan pejantan)
- Ayam Layer Grand Parent Stock            =                35.647 ekor (meliputi Starin B dan Strain A).
   Adapun Jenis ayam Layer tersebut di atas dihitung oleh penulis secara tersendiri,dimana kerangka perhitungannya tidak jauh berbeda dari perhitungan jenis ayam Broiler.
- Ayam Pejantan                                       =         53.895.432 ekor.

Kebutuhan Pakan masing-masing jenis ayam:
Berikut perkiraan konsumsi pakan dari masing-masing jenis ayam, dimana data sudah diolah berdasarkan data dari Manual Book dan pengalaman dilapangan.
- Ayam Broiler Final Stock                      =  20.854.400.000 kg.
- Ayam Broiler Parent Stock                   =        697.494.617 kg
- Ayam Broiler Grand Parent Stock         =          32.204.445 kg

- Ayam Layer/petelor Final Stock            =    1.576.287.352 kg.
- Ayam Layer Parent Stock                     =         44.376.771 kg
- Ayam Layer Grand Parent Stock          =            1.704.855 kg

- Ayam Pejantan                                     =          53.895.432 kg.
      Total Konsumsi pakan  Tahun 2008   =  23.260.363.471 kg. (23.260.363 ton).

Pertanyaan bagi kita seberapa banyakkah bahan baku pakan tersebut yang dibutuhkan? (terutama Jagung dan Kedelai utuh).
Jawabnya,
Bila komponen baku pakan "Jagung", maka kita harus menyediakan 12.327.992.640 kg ( 12.327.992 ton) setara 53% dari konsumsi pakan.
komponen baku pakan "Kedelai utuh", maka kita harus menyediakan 1.860.829.078 kg  (1.860.829 ton) setara  8% dari konsumsi pakan secara keseluruhan.

Pertanyaan selanjutnya, berapa ketersediaan bahan baku pakan "Jagung" dan Kedelai Utuh" di tahun 2008? 
Berikut data yang penulis kutip dari Artikel "Impor demi kontinuitas" Kompas 29 Agustus 2009 yang mana data intinya bersumber dari Departemen Pertanian.
Bahwa capaian tahun 2007    Jagung      13.29 juta ton  ( 13.290.000. ton ),
                                             Kedelai       0.59 juta ton  (      590.000. ton).
            capaian tahun 2008   Jagung       15.86 juta ton  ( 15.860.000. ton).
                                             Kedelai       0.77 juta ton  (      770.000. ton).

Jadi apa hendak dikata?
Bahwa bahan baku pakan "Jagung" tersisa 3.532.008  ton masih diperebutkan untuk pakan ternak itik, ikan , ternak babi dan kebutuhan masyarakat lainnya termasuk ekspor Jagung ke negara tetangga.
Sedangkan Kedelai minus 1.090.829 ton harus di IMPORT, dengan menggunakan nilai DOLLAR.

Apakah pembaca pingin tau pula berapa banyak bahan pakan dari tepung ikan yang dibutuhkan ? jawabnya, sederhana saja; 3.5% dikalikan Total konsumsi pakan ayam di tahun 2008 sebanyak 814.112 ton.
Permasalahannya adalah kita lebih suka Barang Import "Tepung ikan" dari Chili, Denmark dls ketimbang menglola hasil tangkapan ikan nelayan gurem.yang berkelimpahan dan lebih suka lihat negara-negara tetangga melakukan ilegal fishing. Aneh bin ajaib.

Kesimpulan:
1. Jika bahan baku pakan ternak unggas terus begini keadaannya, tidaklah heran bahwa harga pakan Ayam terus naik harganya (dalam hitungan bulan bahkan sering terjadi dalam hitungan minggu).
Karena tiga jenis bahan baku pakan Ayam tersebut,  harus di IMPORT dimana stock barang nya sangat tergantung Luar negeri, harganyapun  mengikuti kondisi nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar.

2. Bagi Kita yang bergerak di dunia Perunggasan, terutama pabrik Pakan maupun Breeding Farm yang memiliki Pabrik Pakan, Adakah niat baik untuk membangun dunia Perunnggasan secara Berdikari (Berdiri di atas kaki sendiri), menyediakan seperti Jagung, Kedelai bahkan Tepung Ikan yang asalnya dari tanah tumpah darah Negara Republik Indonesia?

3.  Mengingat akan capaian Jagung dan kedelai di dua tahun terakhir, sepantasnyalah kita dunia perunggasan Indonesia sangat bisa menciptakan peluang kerja dalam arti merangkul petani-petani dipedesaan yang jumlahnya puluhan juta dalam kondisi banyak "menganggur", untuk bercocok tanam komoditi di atas. Kemudian Hasilnya ditampung untuk dipergunakan sebagai bahan baku pakan unggas serta untuk komoditi lainnya.

4.  Semua masyarakat. dari ekonomi Gurem hingga the Have tentunya sangat mengenal dan menyukai hidangan dari bahan daging ayam atau telor negeri, jadi jika Harga Pakan Ayam selalu naik terus disertai harga Day Old Chick yang selalu gonjang-ganjing. Haruskah apa yang dahulu dicanangkan oleh pendahulu kita sudah  "terlupakan" dan tergantikan sifat-sifat  MAMON.

5. Sudah saatnya dunia perunggasan Indonesia merekonsiliasi, berbenah diri, demi hajat orang banyak sehingga terwujud BERDIKARI PERUNGGASAN INDONESIA  berazas GOTONG ROYONG untuk kemakmuran semua lapisan masyarakat serta dilaksanakan secara berkelanjutan.


6.  Siapa yang akan memulainya? dan kapan waktunya?
     (malu "aku" selalu dilecehkan oleh warga negara tetangga)