Selamat Datang - Wel Come

Selamat anda mengunjungi Situs dan menyimak artikel perunggasan dari sumber yang mumpuni.

Sabtu, 19 September 2015

"Pemusnahan Indukkan Parent Stock Ayam" - Miris...banget.



Miris Perunggasan “Ayam” di Negaraku... NKRI.
Bagaimana tidak miris?
Perhatikan catatan gonjang ganjing Harga Day Old Chickens (DOC), selama kurun waktu 20 tahun, sumber asli dari penulis.

Tahun 1995, sekitar bulan Juli.
Adalah awal mula tejadinya gonjang ganjing harga DOC , dijual dengan harga Rp. 1.000,- dapat 3 ekor. Karena  terjadi over produksi di bulan Juli hingga Oktober 1995.

Tahun 1997,1998
Harga DOC merosot, karena krisis moneter.

Tahun 2003, 2004, sekitar bulan Oktober dan seterusnya.
Terjadi merebaknya kasus flu burung, bukan karena over produksi tapi masyarakat takut makan produk “Ayam”. Sehingga harga DOC terjadi gonjang-ganjing.

Tahun 2008.
Secara Nasional suplay DOC Pedaging di awal tahun melebihi  pangsa pasar mengakibatkan harga nya turun. Kejadiannya cukup lama diikuti harga pakan ayam mulai naik, berakibat banyak pembibitan Ayam yang sedikit melakukan “Chick In”. Karena kesulitan keuangan dan dampak dari harga BBM yang “melambung” baik secara nasional maupun global.  Kondisi lain perekonomian Negara Amerika Serikat sedang mengalami krisis finansial pula.

Tahun 2011
Dampak dari eporia pembibitan ayam melakukan Chick In di tahun 2010, maka tejadilah kondisi kelebihan populasi DOC  Broiler.
Di P. Jawa, pada bulan Maret harga DOC “Broiler-Super” di tingkat pembibitan ayam, merosot menjadi  Rp. 3.500,- per ekor.
Dan mulai terjadi “perang” hingga diperlakukan banting harga, khusus di akhir jadual hari-hari Pull Chick.
Selama bulan April, harga DOC “Broiler-Super” semakin merosot saja, per ekor dihargai hanya Rp. 1.500,- s/d Rp. 1.750,-      Di bulan Mei, harga DOC  “Broiler-Super” tidak lebih dari Rp. 1.000,- s/d Rp. 1.200,- per ekor. Dengan situasi sangat tidak menentu dan tidak jelas kapan berakhirnya.

Kliping kutipan artikel: berita dari Antaranews.com tertanggal 11 Juni 2009” tercantum salah satu alinea, bahwa data dari Informasi Pasar (Pinsar), “permintaan daging ayam” di dalam negeri di Tahun 2008 mencapai 980.000 ton.

Komentar penulis: daging ayam Broiler 980.000 Ton, dalam bentuk “Dress” adalah setara 1.225.000.000 ekor ayam broiler hidup  per tahun. Perhitungan penulis hal tersebut setara dengan 1.303.400.000 ekor/tahun atau 24.137.037ekor/minggu.

Kliping kutipan: Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) Indonesia Krissantono mengatakan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang industri pembibitan ayam masih harus mengimpor dari luar negeri karena di dalam negeri belum dapat diproduksi, Indukkan ayam (GPS dan PS)
Krissantono memaparkan produksi anak ayam ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia yang rata-rata mengkonsumsi hanya 31 juta ekor per minggu atau setara dengan 1.612 juta ekor setahun. (Oleh Rika Panda - Minggu, 04 Desember 2011)

Tahun 2012
Di bulan Januari hingga Februari harga DOC Broiler “Super” hanya bergerak di      kisaran Rp. 3250 hingga Rp. 3800,-/ekor,-
          Di bulan April harga melonjak menjadi Rp. 4800,-/ekor.
Kondisi perunggasan ayam Broiler di pertengahan bulan Agustus, tambah parah satu ekor DOC Broiler hanya di jual Rp. 1.500,-/ekor dan mulai bergerak setelah pebisnis melakukan pengurangan suplay DOC Broiler melalui kegiatan pemusnahan calon anak ayam maupun pengurangan Hatching Egg.

Tahun 2013
Dampak dari ulah pebisnis tersebut di atas, baru terasa di awal bulan Januari 2013 dimana harga DOC Broiler “Super”  Rp. 3.700,-/ekor.  Dan bergerak naik terus ke angka Rp. 5.500,-/ekor, ter monitor di bulan April.
Rupanya kondisi tersebut, membuat pebisnis banyak yang melakukan chik in DOC Parent Stock baik itu di P. Jawa atau di Kalimantan Barat dan Sumatra Utara, Sumatra Selatan, dengan harapan di tahun depan mendapat untung besar dan bisa menutup utang-utang tahun sebelumnya.
Harga DOC Layer, di bulan Januari masih pada kisaran Rp. 8.000,-/ekor, tapi sudah terasa ada gejala penurunan, di bulan April harganya Rp. 5.000,-per ekor.

Tahun 2014
Harga DOC Broiler “Super” pada bulan Januari hingga Juli stabil di angka Rp. 4.500,- s/d Rp. 5.000,-/ekor.
Satu minggu menjelang lebaran, harga DOC Broiler sudah terlihat ada gejala mulai menurun. Selanjutnya dua minggu setelah lebaran harganya  merosot  menjadi Rp. 2800,-/ekor.
Pelaku bisnis perunggasan ini, masih belum sadar dari mana penyebab masalah ini dan masih berwawasan karena pengaruh: musim kemarau yang     panjang dan bulan Sura.

Komentar penulis: peristiwa banjirnya DOC Broiler yang berkepanjangan hingga satu tahun ke depan ini. Tidak lepas dari kebijakkan melonggarkan kebijakkan masuknya baik DOC GP atau Hatching egg GP serta DOC Parent Stock. Dan naik kelasnya peternak-peternak Broiler ke kelas setara Breeding Farm.
         
Di bulan Agustus baik pebisnis yang menjadi anggota asosiasi maupun yang “non”, mengadakan ritual yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya yakni: pemusnahan calon anak ayam (umur 18 hari di mesin pengeram) hingga 50% dari populasi disertai pengurangan suplay Hatching egg. Namun sayang banyak pebisnis tersebut di atas yang tidak fair dalam melaksanakannya, sehingga terjadi aksi boikot.  
          Diakhir bulan September, harga DOC tak terkendali sangat merosot. DOC   Broiler “Super” hanya diharga Rp. 1.000,- s/d Rp. 1.500,- per ekor.

Analisa penulis, yang tertuang pada bukunya. Diperkirakan supply DOC broiler jauh diatas kejadian tahun 2008 sekitar 45.000.000 ekor/minggu.
         
Komoditi daging ayam potong/dress, harganya juga mengalami penurunan  dikarenakan stok ayam hidup di kandang peternak “Kemitraan Bodong” maupun peternak sekala “Sangat Gurem” (pelihara DOC “Grade dua”), “cukup melimpah” dengan waktu panen hampir berbarengan.

Diakhir tahun2014 tersebut, nampak semakin gonjang-ganjing dan galau karena muncul dilema baru yakni:
1.   Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (Rp. 12.160,- s/d Rp. 12.700,- per 1 US $). Tentu dampaknya akan jelas didepan mata;
Harga pakan,  obat-obatan, vaccine akan naik harganya.
DOC GPS dan PS, untuk program “pengganti” indukkan yang sudah tua, akan terasa mahal dan berat.

2.   Di awal November harga BBM: Premium naik menjadi Rp. 8.500, serta solar menjadi Rp. 8.000 dari Rp. 6.500,-

Tahun 2015
Bulan Januari hingga Maret, harga DOC “super”, dibawah Rp. 3.000,-/ekor dan sangat tidak menentu. Hal ini sudah pasti dikarenakan suplay DOC sangat melebihi permintaan pasar sebagai efek kebijakan peternak “pembibitan” yang gencar pelihara ayam Parent Stock secara besar-besaran dan serentak ditahun 2012-2013.

Bulan April, meskipun tak terendus oleh “media” banyak usaha pembibitan ayam yang mendapat musibah; banyak ayam parent stocknya terkena penyakit flu burung. Sehingga banyak pula ayam indukkan parent stock yang sedang produktif di afkir lebih cepat.

Secara rata-rata harga DOC Broiler “Super”, tercatat dengan harga mendekati break event point sebulan menjelang bulan “munggah” selebihnya sangat jauh dibawah BEP DOC.

Nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar yang melejit (Rp. 14.400,-/1 US $), telah mempengaruhi dunia perunggasan kita, baik untuk belanja bahan baku pakan (jagung, tepung ikan, bungkil kedelai, kedelai utuh, dedak gandum semua harus import), Obat-obatan, Vaccin maupun pembelian DOC baik parent stock (harga 2,5 $US/ekor) maupun Grand Parent Stock ( harga 25 $ US/ekor).


Entah apa maksud dan asal-usulnya, dipertengahan bulan September, keluar pernyataan-pernyataan:
->  Para peternak tak sampai dua bulan menikmati harga ayam yang tinggi, kini harga daging ayam ras kembali jatuh ke level Rp 10.000-12.000/kg.

"Tidak mudah mengatur harga di pasar, tidak seperti membalikkan telapak tangan. Belum lama pada pertengahan Agustus harga ayam dianggap mahal. Kemudian pedagang demo," ungkap Don P. Utoyo, Ketua Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia kepada detikFinance melalui pesan singkat, Kamis (17/9/2015).
Komentar penulis:
Untuk mencari penyebabnya? nggak ribet-ribet amat.  Lihat kondisi di pasar dan dipemotongan2 ayam. 
Ada berapa macam jenisnya (misal; ayam broiler ukuran 1.9 - 1.3 kg, ayam pejantan 0.8 -0.9 kg, ayam indukkan tua Parent Stock 3.3 - 3.8 atau 4.2 - 4.5Kg). 
Dari mana asal-usulnya? dan berapa lama harga daging ayam akan turun terus ?

->  “Potensi produksi DOC Final Stock ayam pedaging kata Muladno, untuk tahun 2015 sebanyak 3,3 miliar ekor. Sedangkan untuk kebutuhan DOC Final Stock di dalam negeri, sebanyak 2,44 miliar ekor”.
"Dalam waktu dekat, kita akan melakukan ekspor telur tetas induk (Parent Stock Hatching Eggs) ke Myanmar. Rencana ekspor ini dilakukan setelah melakukan diskusi dengan pemerintah Myanmar," kata Muladno di Jakarta, Jumat (28/08/2015).
"Ini pertanda bahwa Indonesia telah mandiri dalam memenuhi permintaan dalam negeri. Atau sudah swasembada daging ayam, bahkan kemampuan produksinya telah surplus karena bisa ekspor,"

Komentar penulis:
Angin “sorga” kah ini? Atau jangan-jangan hanya untuk mengalihkan perhatian karena yang bermain adalah in group Breeder.

Perhitungan dan analisa penulis:
Produksi : 3,3 miliar ekor -> 61,111 juta/minggu.
kebutuhan DOC Final Stock di dalam negeri, sebanyak 2,44 miliar ekor” -> 45,185 juta/minggu. Jadi kelebihan produksi 15,926 juta/mg. Jadi so what?

->  Seperti diketahui di pertengahan September, para Breeding Farm GPS dan atau PS Broiler mengemis untuk memusnahkan 6 juta ekor bibit ayam tujuannya agar harga ayam menjadi stabil.

Komentar penulis: Apa pula ini? Dulu ada istilah “aborsi” memusnahkan calon anak ayam (umur 18 hari di mesin pengeram) dan DOC Broiler. Mereka sering bahkan sangat sering melakukannya selama kurun waktu 20 tahun.
Lalu kelakuan mereka sekarang ini disebut apa?

Dipastikan setelah Breeding melakukan ritual tersebut di atas (pengurangan 6 juta indukkan PS), harga DOC final (Broiler) akan naik harganya, bisa Rp. 7.000,-/ekor. berlangsung hingga tahun depan.
Mengapa? karena selain suplaynya berkurang, DOC Broiler yang beredar di pasaran hanya 45%, sisanya masuk kemitraan bodong.
Harga daging ayam naik pula, tapi bagi peternak broiler "Sangat Gurem" mungkin tidak bisa menikmatinya (karena jika mereka berbarengan panen dengan kemitraan bodong, harganya pasti turun).

Sungguh kondisi perunggasan yang “miris” bin memprihatinkan;
selama kurun waktu dua dasa warsa, selalu gonjang-ganjing dan tanpa arah memikirkan strategi supply and demand terhadap “ketahanan dan kedaulatan pangan – khususnya sumber Protein hewani dari daging dan telor ayam”.

Inilah kondisi perunggasan “ayam” kita:
1.   yang sebagian besar dikelola oleh “generasi kedua”, yang berorientasi “bisnis minded” dan maunya serba instan.
2.   Lahan “Bisnis” yang sebagian besar sudah di caplok oleh Perusahaan-perusahaan Breeding Farm, kaliber internasional.
3.   Dan siapa pebisnis yang tidak tergiur, manakala bisnis perunggasan bersifat bebas dari PPN 10% (Termasuk komoditi Pertanian yang bersifat kebutuhan pokok),
4.   Bisnisnya pun seolah-olah ditunjang oleh kebijakkan-kebijakkan “terserah pasar” yang sepertinya menggampangkan impor DOC GP, PS hasil DOC final stock Broiler mau jeblok mau naik “monggo terserah pasar”.  Nggak usah memikirkan dan capai-capai menciptakan ‘ayam lokal dan super” hasil dari plasma nutfah asli Indonesia. Lebih baik import “kutuk” GPS atawa PS dari luar negeri. Kagak usah belajar data kebutuhan riil antara suplay demand ayam Broiler, nJlimet....
5.   Bisnisnya lebih memilih bahan baku pakan ayam seperti; jagung, tepung ikan, polard, kedelai utuh, tepung kedele kesemuanya ber “label import”,  lebih keren dari pada hasil petani lokal.
6.   Senang mentertawakan pimpinan “Presiden dan kabinet” berikutnya, dengan meloloskan kebijakkan-kebijakkan tersebut di atas; satu atau dua tahun menjelang “pemilu”.
7.   Senang mentertawakan karyawan kandang dan penetasan yang terkena PHK “massal”. Untung dipekerjakan kembali, harus dengan aturan Outsourcing.
Harapan tinggal harapankah? untuk mewujudkan gagasan yang luhur pakar-pakar Perunggasan terdahulu yaitu: "Mewujud nyatakan ketersediaan sumber protein hewani yang murah meriah dan terjangkau bagi masyarakat, melalui produk unggas seperti Telor dan Daging ayam" dengan semangat ke"Gotong Royong-an".

Kini saatnya harus dan harus berbenah atau merevolusi perunggasan “ayam” dengan merevisi UU No.18 tahun 2009 tentangPeternakan dan kesehatan hewan” serta memberlakukannya secara benar dan konsekuen ada “punish dan reward” bagi pelaku Breeding Farm dan turunannya.




Pamulang, 18 September 2015.
penulis buku: ” Manajemen penetasan ayam untuk Broiler dan layer”.

Rabu, 31 Desember 2014

Perunggasan Indonesia di Tahun 2014



Perunggasan  "Kebablasan yang terencana"?
Tahun 2014 
Harga DOC Broiler “Super” pada bulan  
1.  Januari hingga Juli stabil di angka Rp.4.500,- s/d Rp. 5.000,-/ekor.Satu minggu menjelang lebaran, harga DOC Broiler sudah terlihat ada gejala mulai menurun. Selanjutnya dua minggu setelah lebaran harganya  merosot  menjadi Rp. 2800,-/ekor.



Pelaku bisnis perunggasan ini, masih belum sadar dari mana penyebab masalah ini dan masih berwawasan karena pengaruh: musim kemarau yang panjang dan bulan Sura.

Bagi penulis: peristiwa banjirnya DOC Broiler yang berkepanjangan hingga satu tahun ke depan ini. Tidak lepas dari kebijakkan “akhir jabatan” di instansi terkait yang melonggarkan kebijakkan masuknya baik DOC  GP atau Hatching egg GP serta DOC Parent Stock. Dan naik kelasnya peternak-peternak Broiler ke kelas setara Breeding Farm.

2.   Di bulan Agustus baik pebisnis yang menjadi anggota asosiasi maupun yang “non”,  mengadakan ritual yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya yakni: pemusnahan calon anak ayam hingga 50% dari populasi disertai pengurangan suplay Hatching egg. Namun  sayang banyak pebisnis tersebut di atas yang tidak fair dalam melaksanakannya, sehingga terjadi aksi boikot. 

3.   Diakhir bulan September, harga DOC tak terkendali sangat merosot. DOC Broiler “Super”  hanya diharga Rp. 1.000,- s/d Rp. 1.500,- per ekor. Diperkirakan supply DOC broiler jauh diatas kejadiaan tahun 2008 sekitar 45.000.000 ekor/minggu.   


         

  •   Komoditi daging ayam potong/dress, harganya juga mengalami penurunan dikarenakan stok   ayam hidup di kandang peternak “Kemitraan Bodong” maupun peternak sekala pelihara DOC “Grade dua” cukup tinggi dengan panen hampir berbarengan.



  •   Komoditi unggas lainnya seperti telor “Coklat”; harganya juga mengalami penurunan akibat kena imbas penggelontoran telor jenis Hatching Egg yang tidak masuk Setter.

Gejala penurunan harga DOC Layer sudah terasa di bulan April dan terparah   terjadi di bulan Juli yaitu Rp. 1.000,-/ekor.


  •      Inilah kondisi perunggasan kita,

1.   yang sebagian besar dikelola oleh “generasi kedua”, yang berorientasi “bisnis minded” dan maunya serba instan.
2.   Dan siapa pebisnis yang tidak tergiur, manakala bisnis perunggasan bersifat bebas dari PPN 10% (Komoditi Pertanian yang bersifat kebutuhan pokok), Bisnisnya pun seolah-olah ditunjang oleh kebijakkan-kebijakkan yang menggampangkan impor DOC GP, PS dan bahan     baku pakan seperti Jagung, tepung Ikan, tepung kedele.


  •    Sungguh kondisi perunggasan yang memprihatinkan; selama kurun waktu dua dasa  warsa, Selalu gonjang-ganjing dan tanpa arah memikirkan strategi terhadap “kedaulatan pangan -sumber Protein hewani”.

     Kini nampak semakin gonjang-ganjing dan galau karena muncul dilema baru yakni:
1.   Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS (Rp. 12.160,- s/d Rp. 12.700,- per 1 US $). Tentu dampaknya akan jelas didepan mata;
Harga pakan,  obat-obatan, vaccine akan naik harganya.
DOC GPS dan PS, untuk program “pengganti” indukkan yang sudah tua, akan terasa mahal dan berat.

2.   Di awal November harga BBM: Premium naik menjadi Rp. 8.500, serta solar menjadi Rp. 8.000 dari Rp. 6.500,-/liter.

3.   pasar bebas Asean (AFTA 2015) besok pagi sudah di depan mata.


  • Lalu bagaimana sikap kita?;

Bagaimana Instansi terkait, Akademisi dan praktisi serta pelaku usaha bakal menyikapinya?. 
Nggak jelas….. 
Jelas... Kegotongroyongan nggak mau....
Karena mereka tak punya wawasan Nasional  “NKRI”.